Home Pengetahuan BERDAGANG DENGAN ALLAH

BERDAGANG DENGAN ALLAH

59
0
SHARE

Saya pernah diceritakan oleh ustadzah saya tentang pemilik toko selimut yang kedatangan seorang pembeli kaya dan miskin (lupa sumbernya dari mana).

Awal ceritanya sih gini. Si penjual membandrol harga 450 Riyal untuk setiap selimutnya. datanglah pembeli pertama untuk membeli selimut dengan harga itu. Lalu, datang pembeli kedua. Melihat bajunya yang lusuh dan keringat di dahinya, Si Pembeli Pertama menjauhinya dengan tatapan sinis merendahkan.

Si Penjual bertanya kepada Pembeli Kedua:
“Apa yg bisa saya bantu untuk Anda?”

Pembeli Kedua:
“Saya butuh 6 lembar selimut untuk saya dan anak-anak, agar kami terlindungi dari dinginnya hawa musim ini. Tapi…saya cuma punya uang 50 Riyal.” Tatapannya penuh harapan.

Si Penjual tersenyum menanggapi:
“Oh begitu…saya punya 6 lembar selimut buatan Turki. Harganya 10 Riyal perlembar. Jika Anda membelinya 5 lembar, maka saya akan kasih 1 lembar dengan gratis”.

Si Pembeli Kedua sumringah:
” Alhamdulillahh… ini uang saya 50 Riyal…”

Kemudian ia pulang membawa 6 selimut untuk dirinya dan keluarganya dengan penuh syukur. Tak lama kemudian si Pembeli Pertama protes pada si Penjual.

“Kenapa engkau menyerahkan 6 lembar selimut itu pada Pak Tua tadi hanya seharga 50 Riyal, sementara padaku Kau jual 450 Riyal untuk setiap lembarnya?…”

Penjual dengan tersenyum menjawab :
“Engkau orang mampu, maka kujual selimut ini dengan harga yang semestinya.
Sementara Pak Tua tadi sangat membutuhkan selimut, tapi tak punya cukup uang…”

Si Pembeli Pertama masih penasaran:
“Kenapa engkau tak berikan saja padanya dalam bentuk sedekah yang gratis. Sebab 50 Real tidak ada artinya buatmu…”

Si Penjual menjawab:
“Menolong tak harus merendahkan orang yang ditolong. Aku ingin menolongnya tanpa harus membuatnya merasa ditolong. Saat menjual selimut padamu, aku berdagang dengan manusia.
Tapi saat menjual selimut pada Bapak Tua tadi, aku berdagang dengan Allah. Jika di dunia ini aku bisa melindunginya dari hawa dingin dunia, Maka aku berharap Allah akan melindungiku dari panasnya api neraka kelak…” .

Si Pembeli Pertama mengangguk penuh arti.

والله في عون العبد ما كان العبد في عون اخيه

“Dan Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Intinya dari cerita ini adalah, menolong tak seharusnya merendahkan orang yang kita tolong. Banyak sekali di negara kita Indonesia hakikatnya pengemis atau pengamen, tapi dia bukan hanya sekedar meminta. Dia bekerja menyanyikan sebuah lagu untuk kita meski kadang suaranya tak semerdu Boy Band dan hanya dibantu dengan peralatan tradisional.

Ada juga pengemis yg menjual 1 tissue dengan harga bebas, yakni dia menjual bukan dengan harga asal melainkan seikhlasnya kita tuk memberikan berapa terhadapnya. Dari sini lah kita bisa menolong tanpa merendahkan orang lain, niatkan lah dalam diri kita karna setiap pekerjaan itu tergantung pada niat kita. Niat menolong bukan karna dia miskin tapi karna dia telah bekerja untuk kita.

by:Yunita Zakiya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here