Home Pengetahuan Gadis Kecil Ini Harus Mengemis Untuk Bayar Warisan Hutang Ibunya

Gadis Kecil Ini Harus Mengemis Untuk Bayar Warisan Hutang Ibunya

76
0
SHARE

Di salah satu perempatan jalan di Kota Purwokerto, Jawa Tengah, semua kendaraan menginjak pedal remnya kemudian berbaris rapi, 60 detik waktu terus menghitung mundur, mengejar detik-detik lampu merah yang akan segera berubah menjadi hijau.

Tiba-tiba entah dari sudut mana muncul seorang gadis kecil dengan wajah memelas menghampiri setiap pengendara motor dan mobil dengan menadahkan tangannya.

Di bawah lampu merah gadis kecil itu menyambung nyawa, berjuang sendiri melawan hari, berlari melawan terik matahari. Dengan suara yang sedikit lirih, pengendara pun iba dan memberikan sedikit rezekinya, namun adapula yang seolah tak peduli atau berpura-pura tidak melihat. Keceriaannya telah terenggut oleh kerasnya kehidupan.

Adalah Dewi Anggraeni, gadis kecil kelahiran 6 Februari 2004 yang kini harus menanggung semua utang almarhum ibundanya semasa hidup. Gadis kecil yatim piatu pasangan Maryati dan Wiyatno itu kini diasuh oleh tetangganya, Sriwati, setelah ibunya meninggal dunia karena sakit paru-paru sekitar 1 bulan yang lalu.

Dengan setoran Rp 50 ribu per hari, Dewi yang masih duduk di kelas III SDN 1 Karengklesem ini harus turun ke jalan untuk menjadi pengemis.

Biasanya pekerjaannya itu dia lakukan sepulangnya dari sekolah, sekitar pukul 15.00 hingga 21.00 WIB. Ia mengemis untuk melunasi beban utang sebesar Rp 6 juta yang dipinjam oleh ibunya ketika sakit untuk berobat.

“Dewi kerja habis pulang sekolah. Targetnya harus Rp 100 ribu, kalau tidak target tidak berani pulang,” kata Dewi saat ditemui wartawan di deretan ruko-ruko perempatan Sri Ratu, Kota Purwokerto, beberapa waktu lalu.

Setiap hari, uang hasil dia mengemis selalu disetorkan pada SR, salah satu tetangga yang selama ini merawatnya. Uang itu digunakan untuk mengangsur utang ibunya.

“Uangnya dikasihkan ke mamahnya Ilham (SR) untuk membayar utangnya Ibu,” jelasnya.

Sementara menurut tetangga Dewi, Supriyatin (44), Dewi sebenarnya memiliki kakak perempuan. Namun semenjak ibunya meninggal, sang kakak pergi. Sejak itulah hanya Dewi seorang yang berusaha melunasi utang ibunya.

“Dewi ditarget harus dapet uang sehari minimal Rp 70 ribu, kalau sampai malam sehabis Isya dia belum dapat segitu, dia tidak mau pulang dan selalu menangis di pinggir jalan tempat dia meminta-minta,” ujar Supriyatin.

Selain takut tidak bisa memenuhi target, Dewi juga sering mendapat marah dari SR. Pasalnya, uang dari hasil Dewi mengemis, sebagian harus diberikan untuk SR.

“Dari uang Rp 70 ribu, dibagi Rp 50 ribu buat rentenir yang Rp 20 ribu buat Bu SR,” ujarnya.

Dia menjelaskan, utang almarhum ibunda Dewi awalnya hanya Rp 2 juta, tapi berkembang menjadi Rp 6 juta dan diwariskan kepadanya sehingga harus ia lunasi. Padahal kondisi Dewi semakin hari semakin kurus dan sakit-sakitan.

“Sempat pas waktu malam-malam Dewi badannya panas, dan bersandar di tiang listrik. Lalu saya belikan obat, dan saya bawa pulang,” ucap Dewi.

Karena pulang mengemis hingga larut malam, dia akhirnya beberapa kali pula sempat mengantuk ketika mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas.

Bahkan ketika berangkat ke sekolah, lebih sering dirinya tidak bisa sarapan lantaran tidak ada nasi untuk dimakan. Melihat hal tersebut, guru di sekolahnya kadang membelikan ketupat dan mendoan untuk mengisi perut Dewi yang kosong.

Sejak ibunya meninggal, pihak sekolah sebenarnya mengetahui bahwa Dewi selama ini menjadi gadis peminta-minta di perempatan jalan. Pihak sekolah juga tahu saat Dewi sedang mengemis dan melihat guru atau teman-temannya melintas dirinya langsung bersembunyi.

“Dewi anak yang lincah, baik, dan penurut, tapi jarang masuk sekolah. Setelah diselidiki, ternyata Dewi sering bekerja untuk mengemis di jalan,” kata Marsini, salah satu guru Dewi.

Sebenarnya Dewi Anggraeni mendapatkan bantuan siswa miskin (BSM). Dana bantuan ini digunakan untuk keperluan sekolah. Sementara untuk biaya-biaya lain di sekolah, termasuk buku pelajaran semua digratiskan, karena sekolah sudah mendapatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Perubahan Dewi bukan hanya di sekolah, tapi juga di tempat Dewi selama ini ikut belajar mengaji. Sejak ibunya meninggal, Dewi tidak pernah lagi ikut belajar mengaji dan mengikuti kegiatan lain seperti bermain kentongan.

“Dia anak yang aktif sebelum ibunya meninggal, tetapi setelah ibunya meninggal dia lebih sering berada di perempatan jalan untuk mengemis,” kata guru ngaji Dewi, Musaffa (37).

Menurut Musaffa, pihaknya sudah berusaha melaporkan hal itu ke pihak Dinas Sosial Kabupaten Banyumas, tapi sampai saat ini belum ada respons. Bahkan Ketua RT setempat juga merasa kewalahan setelah mendapatkan ancaman dari orang yang memberikan utang pada almarhum ibunya Dewi karena membela Dewi.

“Kita akan menggerakkan teman-teman mahasiswa untuk melakukan penggalangan dana, dan melunasi utang Dewi. Setelah utangnya lunas, Dewi akan kami ambil dan akan dimasukkan ke pondok pesantren,” pungkas Musaffa.

Sumber:detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here