Home Pengetahuan Ketika Usiaku Bertambah

Ketika Usiaku Bertambah

59
0
SHARE

ADA kebiasaan sebagian manusia ketika umurnya bertambah merayakannya dengan perayaan ulang tahun.

Perayaan yang dilakukan beraneka ragam caranya sesuai dengan pemahaman masing-masing. Namun terlepas dari hal yang kontroversial itu, yang perlu kita pahami adalah hakikat dari bertambahnya umur itu sendiri.

Walaupun secara hitungan matematis semakin bertambah umur manusia pada hakikatnya semakin berkurang dan semakin dekat menghadapi kematian. Karenanya perlu kita mensyukurinya dan memanfaatkan sebaik-baiknya.

“Selamat ulang tahun, semoga panjang umur.” Kalimat ini sudah lazim kita dengar ketika seseorang berulang tahun. Lantas bagaimana sebenarnya penjelasan dari kalimat tersebut?

Menurut penulis, bahwa orang yang panjang umurnya adalah orang yang menghiasi hidupnya dengan amal shaleh. “Man kana ‘umuruhu ma’muratan bil a’malis shalihat”. Dari penjelasan singkat tersebut, masihkah kita akan menyia-nyiakan umur kita?

Sebagai orang beriman yang yakin akan kehidupan yang sesungguhnya tentunya kita tidak akan membiarkan sisa umur kita akan berlalu begitu saja.

Maka sudah seharusnya kita memanfaatkannya untuk beramal shaleh dan terus bergerak berlomba-lomba dalam kebaikan.

Berbincang tentang umur maka sangat erat kaitannya dengan masalah kematian. Umur dan kematian bak dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Maka sebaik-baiknya nasehat adalah nasehat kematian, karena kematian adalah rahasia Tuhan, Allah Rabbul ‘Alamain. Tidak satupun diantara kita yang mengetahuinya. Ia (kematian) bisa datang kapan saja dan dimanapun kita berada.

Allah berfirman:

لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ‌ۚ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَلَا يَسۡتَـٔۡخِرُونَ سَاعَةً۬‌ۖ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ (٤٩)

“….Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya).” (QS: Yunus: 49)”.

Ada kisah menarik yang bisa kiranya menjadi renungan dan kita ambil pelajaran dalam pembahasan umur dan kematian.

Seorang laki-laki masuk ke ruangan Almanshur pada hari dia dibaiat menjadi Kholifah imat Islam. Almanshur berkata: Nasihatilah aku.

Laki-laki itu berkata : Aku nasihati kamu dengan yang aku lihat atau dengan yang aku dengar? Berkata Almanshur: Dengan yang kau lihat. Dia berkata : Wahai Amirul mukminin, Umar bin Abdul Aziz punya 11 anak. Dan ketika matinya meninggalkan 18 dinar. Untuk kafan 5 dinar, untuk urusan kuburnya 4 dinar dan sisanya diberikan pada anak-anaknya.

Sedangkan Hisyam punya 11 anak juga. Setiap anak mendapat bagian sejuta dinar ketika matinya. Demi Allah wahai amirul mukminin, aku melihat pada suatu hari anak-anak Umar bin Abdul Aziz bersedekah dengan 100 kuda untuk jihad fi sabilillah. Dan kulihat salah satu anak Hisyam meminta-minta di pasar.

Disebutkan anak perempuan Umar bin Abdul Aziz masuk ke kamarnya menangis. Maka dia bertanya: Apa yang membuatmu menangis anakku? Dia berkata: Setiap anak memakai pakaian baru, dan aku anak amirul mukminin memakai pakaian lama.

Umar kasihan melihat tangis anaknya, maka dia pergi kepada bendahara negara. Dia berkata: Apakah kau mengizinkanku mengambil gajiku bulan depan? Bendahara berkata : Tidak bisa wahai Amirul mukminin!

Maka umar menceritakan apa yang terjadi dengan anaknya. Bendahara berkata: Kalau begitu tidak apa-apa kau ambil gajimu bulan depan. Tetapi dengan satu syarat. Umar berkata: Syarat apakah itu?. Sang Bendahara berkata, “Syaratnya engkau bisa menjamin padaku kau masih hidup bulan depan untuk bekerja dengan gaji yang telah kau ambil lebih dulu.”

Umar meninggalkannya dan kembali ke rumahnya. Anak-anaknya lalu bertanya: “Apa yang terjadi padamu wahai Bapak?” Dia berkata, “Maukah kalian bersabar dan kita masuk Syurga bersama atau kalian tidak bersabar dan bapakmu ini masuk Neraka?” Mereka berkata, ”Kami akan bersabar wahai Bapak.”

Kisah di atas merupakan salah satu contoh tentang nasehat kematian. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah di atas. Dan dapat memanfaatkan sisa umur kita untuk senantiasa beramal shaleh, kapanpun dan dimanapun kita berada. Wallahu A’lam.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here