Home Pengetahuan Negeri yang Gaduh

Negeri yang Gaduh

43
0
SHARE

Entahlah. Apakah karena teknologi yang teramat maju atau negeri yang dulu kabarnya gemah ripah loh jinawi ini sudah terlalu tua? Hampir setiap hari ada saja berita yang membuat dada ini terasa sesak.

Setiap saat, ada saja orang-orang baik yang dibui. Setiap saat pula, berganti-ganti pemimpin daerah di negeri ini tertangkap tangan karena korupsi. Belum lagi ekonomi negara yang carut marut dan dampaknya sangat dirasa terutama oleh rakyat kelas paling bawah. Mulai dari utang negara yang fantastis hingga penerapan segala bentuk pajak yang tidak realistis. Akibatnya, daya beli masyarakat lemah. Padahal berbagai kebutuhan primer seperti listrik tinggi menjulang.

Benar-benar sebuah negeri yang gaduh. Anggota dewan saling hujat. Para panglima saling debat. Bahkan, bapak presiden yang terhormat dianggap sering menghembuskan islamophobia dengan terbitnya berbagai UU yang menyudutkan umat. Mengedepankan egonya?

Padahal di setiap ujung negeri, wajah-wajah melas berjajar mencari sesuap nasi. Ada pedagang asongan berpanas-panas berjualan di lampu merah. Ada para petani kecil yang berusaha bertahan meski dengan pendapatan tak seberapa. Apalagi kalau gagal panen atau hasilnya diangggap berada di bawah standar sehingga tidak bisa dijual. Ada para janda yang harus bekerja keras menghidupi sekian anaknya sendirian. Dan masih banyak kisah yang terlalu pedih diceritakan. Benar. Karena pada akhirnya mereka hanya beroleh sepiring nasi untuk sekian jiwa yang kelaparan. Sampai-sampai, sempat ditemukan sebuah keluarga yang hanya mampu memasak kulit singkong untuk lauk sehari-harinya. Inikah potret negeri berkeadilan sosial?

Sebentar, mari kita renungi. Sesungguhnya di balik segala bentuk kegalauan yang melanda, tiadakah solusi yang terserak? Mari kita jujur kepada diri sendiri, apakah jalan keluar yang paling benar bagi semua permasalahan yang dihadapi negeri ini?

Kalau kita mau ‘semeleh’, bukan hanya bertutur atas dasar kepentingan sendiri, Islam adalah solusi yang paling realistis. Bukan hanya karena saya (penulis) adalah muslim. Sebab pada kenyataannya, banyak juga umat muslim yang tidak yakin akan keagungan sistem Islam yang tertata dalam Al-Qur’an dan sunnah ini. Padahal kalau mau jujur, tidak ada sistem yang lebih baik, bahkan lebih lengkap keberadaannya daripada Islam. Karena Islam menawarkan sistem yang totalitas. Mengatur seluruh aspek kehidupan. Mulai dari yang remeh temeh, sampai cara hidup sebagai negara yang berdaulat.

Pun sejarah telah mencatat, bahwa umat Islam sering terlibat dalam konsensus atau kompromi yang dilakukan bersama orang-orang sekuler maupun non muslim. Tapi kenyataannya, kejujuran umat Islam seringkali diplintir. Mereka dibohongi, bahkan dipurukkan begitu saja. Padahal umat Islam adalah umat yang jujur dan royal ketika memegang sebuah janji.

Ketulusan umat Islam tentu saja tidak terlahir begitu saja. Segalanya ada karena contoh nyata yang telah ditunjukkan oleh para rasul, lagi-lagi dalam kitab-Nya yang mulia. Bagaimana seorang Ibrahim as. harus menepati janji untuk selalu setia dan hanya tunduk patuh kepada Rabbnya. Sama sekali kekasih Allah ini tidak berniat ingkar janji walau harus ‘menyerahkan’ anak kesayangannya untuk disembelih. Bisa kita bayangkan betapa beratnya harus kehilangan anaknya tercinta, di tangannya sendiri pula!

Adapun Nabi kita yang mulia, Muhammad saw, beliau memperoleh bagian terbesar dalam permasalahan ini. Dikisahkan, ketika Nabi saw berangkat dari Madinah menuju Makkah pada tahun keenam Hijriyah untuk melaksanakan umrah beserta para sahabatnya. Waktu itu Makkah masih dikuasai musyrikin Quraisy.

Setiba di Hudaibiyah, beliau dan kaum muslimin dihadang oleh kaum musyrikin. Maka terjadilah perundingan antara Rasulullah dan kaum musyrikin. Disepakatilah butir-butir perjanjian yang di antaranya adalah gencatan senjata selama sepuluh tahun, tidak boleh saling menyerang, bahwa kaum muslimin tidak boleh umrah tahun ini. Tentu saja ini berat bagi kaum muslimin karena mereka harus membatalkan umrahnya. Tidak hanya itu, kalau ada orang Makkah masuk Islam kemudian pergi ke Madinah, maka kaum muslimin harus memulangkannya ke Makkah.

Bertepatan ketika akan ditandatanganinya perjanjian tersebut, anak Suhail – salah seorang juru runding orang Quraisy– masuk Islam dan ingin ikut bersama sahabat Nabi ke Madinah. Suhail pun mengatakan kepada Nabi, jika anaknya tidak dipulangkan kembali, dia tidak akan menandatangani kesepakatan. Akhirnya Rasulullah menandatangani perjanjian dan menepati janjinya. Anak Suhail dikembalikan dan muslimin harus membatalkan umrahnya. Namun belumlah lama perjanjian itu berjalan, orang-orang kafir justru mengkhianati. Akibat pengkhianatan tersebut, mereka harus menghadapi pasukan kaum muslimin pada peristiwa Fathu Makkah sehingga mereka bertekuk lutut dan menyerah kepada kaum muslimin.

Ini semua kisah yang nyata pernah terjadi di atas bumi ini, di bawah naungan Islam. Namun sekali lagi, sayangnya tidak sedikit umat Islam yang tidak percaya akan keunggulan sistem Islam itu sendiri. Ketika sebagian umat menolak jabatan pemimpin non muslim di negeri ini -mulai dari tingkat RT hingga presiden- sebagian lain malah ramai-ramai mendukungnya. Alasan utamanya, demi menjaga ‘kebhinekaan’. Ketika sebagian umat mendukung zakat maupun ekonomi tanpa riba, sebagian lain menolaknya mentah-mentah. Bahkan seenaknya menerapkan pajak untuk berbagai kepemilikan. Tak heran, seluruh kekayaan negeri ini diperas dan dilumat habis oleh orang-orang serakah, yang terkadang nota bene, seorang muslim. Bahkan sempat tergaung isu, negeri ini berada di pintu kehancuran. Karena sedikit demi sedikit kekayaannya telah berpindah ke tangan asing.

Nah, duhai umat muslim, masihkah kita ragu akan sistem kaffah yang sebenarnya telah sejak 14 abad lalu ditawarkan oleh Allah ta’ala? Wallahu A’lam.

sumber : kiblat muslimah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here